Peternak Bali Rugi Rp 30 Miliar

Kompas.com - 08/05/2009, 13:28 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com — Merebaknya virus A/H1N1 atau flu babi yang merenggut korban jiwa di Amerika Serikat dan Meksiko berdampak negatif terhadap usaha pengembangan peternakan babi di Bali, dengan kerugian mencapai lebih dari Rp 30 miliar.

"Di Bali meskipun tidak ditemukan virus A/H1N1 yang menakutkan itu telah menimbulkan kerugian mencapai Rp 30 miliar lebih," kata Kepala Laboratorium Biomedik Universitas Udayana (Unud), Dr Drh I Gusti Ngurah Mahardika di Denpasar, Jumat (8/5).

Kerugian yang cukup besar itu dihitung dari menurunnya usaha peternakan babi di Bali, yang hampir seluruhnya digeluti ibu-ibu rumah tangga di pelosok pedesaan.

Menurut dia, di Bali dengan populasi babi sekitar 900.000 ekor, berat potong rata-rata 100 kg dengan harga berat hidup Rp 17.000 per kilogram sehingga nilai peternakan babi mencapai Rp 1,53 triliun.

"Jika isu flu babi itu tetap berlanjut, akan mengakibatkan permintaan semakin berkurang dan harga menjadi sangat murah," ujar Mahardika, yang juga dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Unud.

Dengan kondisi saat ini, kerugian yang dialami peternak babi di Bali mencapai Rp 30 miliar, yang dihitung dari jumlah pemotongan babi setiap tahunnya mencapai 28.800 ekor, dengan harga yang terus merosot dari Rp 17.000/kg hidup, kini hanya Rp 13.000.

Beternak babi bagi masyarakat Bali adalah tabungan, tetapi dengan adanya isu flu babi telah melemahkan sistem jaring pengaman sosial dalam menghadapi krisis ekonomi global.

Hal itu tidak hanya berlaku di Bali, tetapi juga dialami beberapa daerah lain di Indonesia, antara lain Sumatera Utara, Sulawesi utara, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.

Di sejumlah daerah di Indonesia tersebut, populasi babi diperkirakan enam juta ekor, 90 persen dipelihara dalam skala rumah tangga dan hanya 10 persen yang dipelihara perusahaan.

Sistem pemeliharaan secara tradisional sering digunakan sebagai tabungan oleh masyarakat pedesaan, di samping persiapan melaksanakan upacara adat dan kegiatan ritual.

Untuk menghindari kerugian masyarakat yang cukup besar, masyarakat diimbau tidak perlu takut mengonsumsi daging babi karena virus A/H1N1 hingga saat ini tidak ada di Bali.

"Dengan demikian tidak ada alasan harga babi maupun daging babi menjadi semakin murah, sementara pakan ternak harganya terus naik," ujar Mahardika.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau